
Mungkinkah disaat ini kita memiliki impian yang sangat nglambung tinggi yang ingin kita wujudtin, yaitu sebuah impian yang mungkin mustahil untuk kita mencapainya dengan keadaan kita yang sekarang ini? ataukah mungkin sekarang kita sedang direndahkan dan ditertawakan oleh temen, saudara, atau bahkan oleh ortu kita ketika kita menceritakan impian kita kepada mereka? Jika kita menjawab ya, janganlah kita ngerasa minder en putus asa dulu. Justru sebaliknya, kita harus NGerasa bangga en berbahagia cz kita baru saja memasuki langkah awal kesuksesan. Mengapa demikan? Karena pondasi kesuksesan adalah impian yang kita miliki. Setiap orang yang telah sukses pasti diawali dengan impian. Membangun impian dapat diibaratkan seseorang yang sedang membangun sebuah rumah. Awalnya kita harus membangun pondasi yang kukuh agar apabila terjadi bencana alam seperti banjir, gempa bumi, atau lainnya yang mengakibatkan rumah yang kita bangun retak dan rusak, kita dapat membangunnya kembali. Begitu pula halnya bila kita sedang berusaha mewujudkan impian yang kita miliki. Jika impian yang kita tanamkan sudah melekat sedemikian kuatnya dalam diri kita, kita akan siap untuk bangkit kembali jika seandainya kita mengalami kegagalan. Banyak orang berhasil yang mengawali langkah keberhasilan dalam hidupnya dengan bermimpi. Salah satunya adalah Thomas Alva Edison
Pasti di telinga kita udah gak asing lagi siapa Thomas Alva Edison. Yup TOM adalah penemu bola lampu pijar, ia baru berhasil menemukan bola lampu pijar pada percobaan yang ke sepuluh ribu kali. Thomas jelas bukan tipe sosok orang yang akan takut gagal. Ia memandang bahwa 9.999 kegagalan yang dialaminya adalah proses yang harus ditempuh untuk menemukan bola lampu pijar. Dengan melalui 9.999 kegagalan itulah, ia bisa berhasil menemukan cara ke 10.000, yang akhirnya berhasil.
Atau mungkin kamu pasti masih ingat sewaktu masih kecil dahulu, kamu jatuh berkali-kali saat baru belajar naik sepeda. Awalnya mungkin kamu putus asa, karena setiap kali mencoba, setiap kali jatuh lagi. Namun setelah mahir, maka keyakinan kamu telah mengalahkan rasa takut. (rasa takut untuk gagal). Sepintas kedua ilustrasi di atas nampak seperti bumi en langit; yang satu soal penemuan bola lampu pijar en yang satunya lagi tentang belajar naik sepeda. Apa hubungannya? Tapi dari keduanya kita bisa menarik benang merah tentang arti kegagalan. Tanpa kegagalan, Thomas Edison takkan mengetahui faktor-faktor apa saja yang harus dihindari dalam pembuatan bola lampu pijar. Tanpa pernah jatuh, seorang anak tidak akan mengenal posisi mana saja yang kurang seimbang di atas sepeda.
Kegagalan bukan sekedar keberhasilan yang tertunda. Justru dengan belajar dari kegagalan, pengalaman yang kita miliki akan lebih kaya daripada orang yang tidak pernah gagal sama sekali. Seperti Thomas Alva Edison yang masih mau terus mencoba sekalipun bola lampu pijarnya yang ke 9.999 gagal menyala,dan seperti seorang anak yang kembali meloncat ke atas sadel setelah jatuh tersungkur, beranikah kita mencoba lagi, saat kredit yang semula lancar mengalir tiba-tiba macet? Taruhlah angan-anganmu tepat satu jengkal di jidat kamu.
Yuuuukkkkkk mari..
0 komentar:
Posting Komentar